IST.

Lewat Bangga Kencana, Sukur H. Nababan Ajak Masyarakat Perangi Stunting Sejak Keluarga

DEPOK - Sosialisasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) yang digelar di Kecamatan Beji, Kota Depok, berlangsung penuh antusias, Sabtu (31/10/2026).

Kegiatan yang merupakan kolaborasi DPR RI, BKKBN, dan pemerintah daerah ini bertujuan memperkuat pemahaman masyarakat terkait perencanaan keluarga, pencegahan stunting, serta pembangunan keluarga berkualitas.

Mewakili tuan rumah sekaligus Koordinator SNC Kota Depok, Michael Louhenepessy menyampaikan apresiasi kepada Anggota Komisi IX DPR RI, Sukur H. Nababan, serta BKKBN yang telah memfasilitasi terselenggaranya sosialisasi tersebut.

Menurutnya, Program Bangga Kencana merupakan salah satu pilar strategis dalam membangun ketahanan keluarga dan mencetak generasi bebas stunting.

Ia menegaskan, keberhasilan program kependudukan tidak dapat dicapai tanpa kolaborasi yang kuat antara legislator, kementerian teknis, pemerintah daerah, dan para kader di lapangan.

Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan dapat menyerap pengetahuan yang diberikan dan menyebarluaskannya kepada masyarakat demi meningkatkan kesejahteraan warga Kecamatan Beji dan Kota Depok.

Apresiasi serupa disampaikan Penelaah Kebijakan Teknis DP3AP2KB Kota Depok, Ditha Aziezah Setiyono. Dalam sambutannya, ia menyampaikan penghargaan kepada Sukur H. Nababan atas dukungan dan fasilitasi terhadap pelaksanaan Sosialisasi Program Bangga Kencana.

"Dukungan seluruh stakeholder sangat penting untuk memastikan program kependudukan dan pembangunan keluarga berjalan optimal," ujarnya.

Sementara itu, Staff Ahli Sukur H. Nababan, Deni Mauladi Priatna, yang hadir mewakili legislator tersebut menyampaikan bahwa Sosialisasi Bangga Kencana merupakan implementasi nyata komitmen DPR RI dalam menghadirkan program strategis pemerintah pusat secara langsung kepada masyarakat.

Menurutnya, Bangga Kencana tidak hanya berfokus pada program keluarga berencana, tetapi juga mencakup perencanaan keluarga yang matang, pemenuhan gizi, serta upaya pencegahan stunting guna menciptakan generasi unggul di masa mendatang. Deni sekaligus secara resmi membuka kegiatan sosialisasi tersebut.

Usai sambutan, acara dilanjutkan dengan sesi foto bersama dan pemaparan materi dari narasumber BKKBN serta DP3AP2KB Kota Depok.

Perwakilan BKKBN Jawa Barat, Yufi Wafiyyah, menjelaskan pentingnya optimalisasi Program Quick Win di Kota Depok. Ia menilai sejumlah program unggulan seperti Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya) dan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) perlu menjadi prioritas dalam upaya meningkatkan kualitas keluarga dan percepatan penurunan angka stunting.

Sementara itu, Ditha Aziezah Setiyono memaparkan sejumlah program unggulan DP3AP2KB Kota Depok yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

Salah satunya adalah layanan konsultasi gratis yang tersedia melalui website Pemerintah Kota Depok maupun melalui layanan yang disediakan DP3AP2KB.

Sesi tanya jawab berlangsung interaktif. Desi Puspitasari dari Sukmajaya menanyakan mengenai program edukasi BKKBN bagi anak-anak di lingkungan sekolah maupun perguruan tinggi.

Menjawab pertanyaan tersebut, Yufi Wafiyyah menjelaskan bahwa program edukasi tersebut telah menjadi bagian dari pengembangan program BKKBN dan saat ini masih dalam tahap pembahasan lebih lanjut terkait teknis pelaksanaannya.

Pertanyaan berikutnya disampaikan Sita terkait keterlibatan pria dalam Program Keluarga Berencana (KB) dan keterbatasan alat kontrasepsi untuk laki-laki.

Yufi Wafiyyah menjelaskan bahwa tanggung jawab dalam program KB merupakan tanggung jawab bersama antara pria dan wanita.

Namun, perkembangan alat kontrasepsi pria masih terbatas karena penelitian mengenai reproduksi pria memiliki tantangan tersendiri yang berbeda dengan penelitian reproduksi wanita.

Menambahkan penjelasan tersebut, Ditha Aziezah menyebutkan bahwa saat ini terdapat sejumlah metode kontrasepsi yang dapat digunakan pria, antara lain kondom dan metode vasektomi sebagai bentuk partisipasi aktif dalam program KB.

Adapun Mayang Sari dari Tirta Jaya menanyakan strategi pemerintah dalam menangani stunting di wilayah terpencil.

Menanggapi hal itu, Yufi Wafiyyah menjelaskan bahwa BKKBN telah membentuk Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang bertugas melakukan pendampingan dan percepatan penanganan stunting hingga ke daerah-daerah pelosok.

Melalui kegiatan ini, diharapkan kolaborasi antara DPR RI, BKKBN, pemerintah daerah, dan masyarakat semakin kuat dalam mewujudkan keluarga berkualitas, mempercepat penurunan stunting, serta mendukung terwujudnya generasi Indonesia yang sehat, unggul, dan berdaya saing. (Yud).

Previous Post Juara 1 Puteri Batik Cilik Indonesia 2025, Gendhis Zhillan Qamarinna Dilaporkan atas Dugaan Pencemaraan Nama Baik