
Ketua Dekranasda Taput Satika Simamora dan kordinator Indonesiana Yanas Sidabutar diabadikan dengan salah satu contoh produk yang akan ditampilkan di Festival Ulos Nusantara. PALAPA POS/Alpon Situmorang
Taput Tuan Rumah Festival Ulos Nusantara
TAPUT - Berkat perjuangan dan kerja keras Ketua Dekranasda Kabupaten Tapanuli Utara Satika Simamora, Kementerian Pendidikan Kebudayaan sepakat mengangkat tema ulos. Dan untuk itu, Tapanuli Utara ditunjuk tuan rumah Festival Ulos Nusantara yang akan dihelat 13-17 Oktober 2018.
Untuk mematangkan konsep dan teknis penyelenggaraan tim Indonesiana yang ditunjuk sebagai penghubung dan mempersiapkan kegiatan berkonsultasi dengan Ketua Dekranasda Satika Simamora di Rumah Dinas, Minggu (5/8/2018).
Tim Indonesiana yang turun Yanas Sidabutar (kordinator), Simon Siregar (Humas), Roynaldo Purba (kerjasama dan sponsor),Charis Purba (Knowlede Notulen). Yanas mengatakan berbagai kegiatan mewarnai Festival Ulos Nusantara di Taput mengambil dua titik kegiatan yakni Tarutung dan Muara.
Konsep yang dianut Kemendikbud kalau dulunya budaya Eurolopia sekarang mereka yang ditarik masuk ke Indonesia.
“Platform kebudayaan ini akan mengangkat pokok pikiran kekayaan budaya daerah," katanya.
Jadi akan ada kolaborasi lewat event. “Kami telah mendengar perjuangan Ibu yang getol mengangkat partonun hingga pameran ke Korea Selatan," ujarnya.
Yanas mengatakan, konsep maupun rundown yang ditawarkan panitia dapat bersinergi dan padu.
“Jadi kita mengangkat produk Tenun Taput dan latar belakangnya. Sisi magis didalamnya, bukan itu saja berbagai hal yang mewarnai perjalanan Ulos juga akan diangkat," katanya.
Yanas berharap dengan dukungan Bupati Nikson Nababan dan Ketua Dekranasda Satika Simamora even nasional tersebut berjalan dengan lancar.
Sementara itu, Ketua Dekranasda Satika Simamora sangat sepakat bahwa di Festival Ulos Nusantara harus menaikkan para pengerajin.
“Saya sudah rencanakan sejak tahun 2017, bahkan Filmnya pun sudah kita rilis mengangkat ulos," kata Ketua TP PKK tersebut.
Satika mengatakan kerja keras itu akhirnya berbuah manis.
“Dulu saya berjuang memperkenalkan ulos keluar Taput bahkan ke Korea Selatan dengan berdarah-darah bahkan sering mendapat penolakan dari penenun karena meminta mereka beralih motif," kenang Satika.
Sekarang partonun Taput terutama Papande Muara sudah merasakan tingginya harga Ulos mereka.
“Saya tidak mau lagi pameran keluar tapi siapa yang ingin produk kami promo harus jelas sehingga Partonun kita beruntung," jelasnya.
Di festival nantinya, Satika menawarkan konsep menjual budaya Taput.
“Kita kaya budaya ada Gorga, Tonun, Gondang dan keindahan Danau Toba. Kenapa mesti angkat budaya daerah lain, budaya kita jauh lebih punya nilai tinggi. Tinggal mengkemasnya lebih baik," kata Satika.
Satika yakin dengan sinerginitas semua pihak akan terbangun konsep yang sama meningkatkan kesejahteraan pengerajin. (als)