Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Pol Ahmad Nurwakhid. PALAPAPOS/Istimewa

PALU - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyatakan bahwa kelompok intoleransi, radikalisme dan terorisme selalu membenturkan agama dan negara.

Hal ini dikatakan Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Pol Ahmad Nurwakhid di Palu, Selasa (8/9/2020) disampaikan dalam seminar nasional pencegahan radikalisme dan terorisme melibatkan civitas akademik melalui FKPT Sulteng bertajuk "Jaga Kampus Kita" berlangsung di Universitas Tadulako Palu.

"Iya, dalam proses merekrut dan propaganda, mereka selalu benturkan agama dan negara. Contohnya mereka gencarkan membandingkan antara khilafah dan Pancasila," ucap Brigjen Pol Ahmad Nurwakhid.

Di hadapan civitas akademik Untad Palu, Ahmad Nurwakhid mengemukakan bahwa radikalisme dan terorisme tidak dimonopoli oleh satu agama, satu aliran atau satu sekte tertentu.

Dia menyebutkan bahwa paham radikalisme dan terorisme itu ada di semua agama, aliran kepercayaan dan sekte, sehingga perlu diwaspadai serta dicegah oleh semua kalangan masyarakat.

"Faham dan gerakan ini ada di semua agama, mereka tidak mengenal agama, sekte dan aliran kepercayaan tertentu. Olehnya setiap individu manusia berpotensi terpapar faham dan gerakan ini," ujarnya.

Tidak adanya monopoli radikalisme dan terorisme dalam satu agama tertentu, kata Ahmad Nurwakhid, karena setiap agama tidak mengajarkan tentang kekerasan. Sebaliknya agama mengajarkan tentang perdamaian, kasih dan sayang kepada setiap pemeluknya.

"Hanya saja agama paling seksi untuk dipolitisasi dalam faham radikalisme dan terorisme ini," sebutnya.

Salah satu penyebab adanya gerakan itu, kata Ahmad Nurwakhid, karena adanya ideologi yang menyimpang. Sementara ideologi yang menyimpang ada pada setiap individu manusia. Kemudian ideologi yang menyimpang tersebut menjadi motif untuk memaksimalkan faham tersebut.

Dia menerangkan terdapat tiga indikator radikalisme dan terorisme, yakni penggunaan ideologi agama dimana agama dimanipulasi, dipolitisasi sehingga cenderung menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan mereka.

Selanjutnya takfiri, yaitu cara pandang yang selalu menyalahkan, mengkafirkan kelompok/faham yang tidak sepaham dan sependapat dengan mereka.

"Di sinilah lahir intoleransi, karena yang tidak sepaham dengan mereka, dianggap salah, dianggap bid'ah, dianggap kafir dan sesat," urai dia.

Terakhir, kelompok radikalisme dan terorisme anti tasawuf dan thareqat. (red)

Comments

Leave a Comment

Berita Lainnya

Prof Marlon Sihombing: Keberadaan Universitas Negeri Magnet Pertumbuhan Ekonomi Baru

TAPANULI UTARA - Ketua tim pengkaji pendirian Universitas Negeri di Tapanuli Raya, Profesor Marlon Sihombing mengatakan keberadaan satu Universitas Negeri bisa menjadi magnet pertumbuhan ek

Ketua KPU RI Positif Covid-19

JAKARTA – Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI Arief Budiman mengakui dirinya dinyatakan positif Covid-19 dan sedang menjalani karantina mandiri di rumahnya.

"

Kunker ke Taput, Ketua DPD Minta Senator Asal Sumatera Awasi Percepatan Pembangunan Tol Trans Sumate

TAPANULI UTARA – Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI La Nyalla Mattalitti meminta Senator asal Sumatera meluangkan waktu mengawasi percepatan pembangunan Tol Trans Sumatera untuk m

Setelah Ketua MPR, Ketua DPD RI Juga Setuju IAKN Jadi Universitas Negeri

TAPANULI UTARA - Setelah mendapat surat persetujuan dari Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) beberapa waktu lalu. Kali ini, Ketua DPD RI La Nyalla Mattalitti juga setuju pendirian Unive

Erick Thohir: Operasi Yustisi Dimulai Senin Depan

JAKARTA - Menteri BUMN sekaligus Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Erick Thohir mengungkapkan operasi yustisi akan digelar pada Senin pekan

Presiden Jokowi Minta Tim Vaksin Merah Putih Kerja Cepat

JAKARTA - Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) meminta Tim Vaksin Merah Putih bekerja cepat dalam pengembangan bibit vaksin Covid-19 yang diteliti dan dikembangkan institusi dalam negeri.