Ilustrasi. PALAPA POS/Istimewa

TERNATE - Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate, Maluku Utara (Malut) akan menggelar Festival Ela-Ela untuk menyemarakan Bulan Suci Ramadhan 1440 Hijiriah sekaligus sebagai salah satu upaya melestarikan tradisi Islam peninggalan leluhur.

"Festival Ela-Ela itu akan digelar pada 31 Mei sampai 1 Juni 2019 di pusatkan di dua lokasi yakni Masjid Kesultanan Ternate dan situs sejarah Benteng Oranje," kata salah seorang Panitia Festival Ela-Ela, Rizal Marsaoly di Ternate, Senin (20/5/2019).

Ela-ela adalah ritual tradisi masyarakat Kesultanan Ternate sejak zaman dahulu untuk menyambut malam turunnya lailatul qadar yang diyakini pada malam 27 Ramadhan dengan cara menggelar doa serta membakar obor dan lampion di kedaton kesultanan dan rumah-rumah warga.

Menurut dia, kegiatan yang akan ditampilkan pada Festival Ela-Ela tersebut di antaranya ritual pembakaran obor di Masjid Kesultanan Ternate dan penampilan atraksi budaya serta permainan tradisional bernuansa Islam di kawasan Benteng Oranje.

Selain itu juga laksanakan sejumlah lomba seperti foto terkait semarak ela-ela serta lomba kampung ela-ela yang melibatkan seluruh kelurahan di kota Ternate dengan penilaian dititikberatkan kesemarakan obor dan lampion serta antusias warga di setiap kelurahan.

Penyelenggaraan Festival Ela-Ela itu, menurut Rizal, selain menjadi hiburan warga setempat, juga diharapkan menjadi daya tarik wisata religi yang dapat mendorong wisatawan berkunjung ke Ternate.

Khusus di Kesultanan Ternate ritual tradisi ela-ela biasanya diserta dengan ritual Kolano Uci Sabea atau Sultan Turun Shalat di masjid kesultanan, yang dalam ritual itu sultan diusung diatas tandu dari kedaton ke masjid begitu pula saat pulang dikawal dengan pasukan adat dan masyarakat dengan mambawa obor.

Salah seorang perangkat kesultanan Ternate Ridwan Dero menjelaskan pembakaran obor dan damar dalam tradisi ela-ela itu dimaksudkan sebagai ekspresi suka cita masyarakat atas turunnya malam lailatul qadar yang membawa rahmat.

Dalam kitab Al-Quran dijelaskan bahwa pada malam lailatul qadar itu malaikat turun dari langit membawa rahmat dan mereka yang beribadah pada malam lailatul qadar itu nilainya sama dengan beribadah selama 1.000 tahun. (ant)

Comments

Leave a Comment

Berita Lainnya

Perancang Busana Asal Taput Lestarikan Ulos dengan Label Acas Mode

TAPANULI UTARA - Perancang busana muda kaum milenial dari Kabupaten Tapanuli Utara Anastasya Charles Angel Simanjuntak (22) turut ambil andil melestarikan Ulos sebagai Budaya Batak melalui

Batik Kota Bekasi Jadi Tamu Istimewa di Acara Collourfull Indonesia

BEKASI - Ketua Komunitas Batik Bekasi (Kombas), Barito Hakim Putra, mengapresiasi perhelatan Fashion Designer dengan tema Collour Full Indonesia yang memberikan kesempatan Batik Kota Bekasi

Pertama Kali, Ratusan Penenun Tradisional Ramaikan Festival Ulos Batak di Hutaginjang Muara

TAPANULI UTARA – Untuk pertama kalinya, ratusan penenun meramaikan Festival Ulos Batak di Kabupaten Tapanuli Utara, yang digelar Dinas Pendidikan Taput dengan berbagai agenda di lokas

Gedung Sate Akan Jadi Lokasi Wisata Sejarah dan Budaya

BANDUNG - Gubernur Jawa Barat (Jabar) M Ridwan Kamil atau Emil mengatakan akan menjadikan Gedung Sate menjadi lokasi wisata sejarah dan budaya sebagai bagian dari fokus pembangunan kebudaya

Wayang Kulit Kontemporer Hipnotis Anak Polandia

JAKARTA - Pertunjukan wayang kulit kontemporer menarik perhatian anak-anak Polandia dalam acara promosi seni dan budaya Indonesia yang digelar di Warsaw Street Party diadakan di Wa

Malam Budaya Indonesia Di Baden Jerman Tampilkan Legong Kraton

JAKARTA - Tari Bali Legong Kraton yang dibawakan Ni Nyoman Hartini Rutzer menjadi daya tarik bagi pengunjung acara malam budaya “Nacht Der Kuturen 2019“ yang diselengga