Direktur Pasca Sarjana IAKN Tarutung Prof. Yusuf Leonard Henuk saat duduk dikursi pesakitan diruangan persidangan Pengadilan Negeri Tarutung. PALAPA POS. Alpon Situmorang/ file

TAPANULI UTARA - Berdasarkan informasi Laman Direktori Pengadilan Tinggi Medan, perkara banding yang diajukan terdakwa Prof. Ir. Yusuf Leonard Henuk dengan nomor perkara nomor 357/Pid/2022/PT Medan dan nomor 358/Pid/2022/PT Medan ditolak Pengadilan Tinggi Medan.

Dari situs resmi Pengadilan Tinggi Medan dikutip, kasus banding penghinaan dengan perkara 357/Pid/2022/PT Medan, dipimpin Hakim Ketua Rumintang dengan anggota Hj.Hasmayetti, Brardy Djohan yang diregister 16 Maret 2022.

Dalam amar putusan tanggal 12 April 2022, mengadili menerima permintaan banding dari terdakwa, menguatkan putusan PN Tarutung Nomor 2/PID C/2022/PN TRT, tanggal 18 Februari 2022 yang dimintakan banding tersebut. Membebanakn biaya perkara kepada terdakwa dalam kedua tingkat pengadilan, yang ditingkat banding sejumlah Rp2500.00 (dua ribu lima ratus rupiah).

Sedangkan untuk perkara nomor 358/Pid/2022/PT Medan tanggal 11 April 2022 diregister tanggal 16 Maret.

Majelis Hakim yang diketua Zainal Abidin Hasibuan dengan anggota Parlas Nababan, Brjamuka Sitorus dalam amar putusannya mengadili menerima permintaan banding dari terdakwa selanjutnya menguatkan putusan Pengadilan Negeri Tarutung tanggal 25 Februari 2022 nomor 3/Pid/C/2022/PN Tarutung.

Membebankan kepada terdakwa membayar biaya perkara dalam kedua tingkat pengadilan, yang untuk tingkat banding sejumlah Rp 3.000.

Sementara itu, Ketua Pengadilan Tarutung Golom Silitonga saat dikonfirmasi via selular , Sabtu (16/4/2022) membalas chat berisikan untuk mengecek putusannya langsung ke kantor.

Kuasa Hukum Alfredo Sihombing dari Badan Bantuan Hukum Advokasi Rakyat (BBHAR) PDI Perjuangan Sabungan Parapat menyambut baik penolakan banding dan menguatkan putusan PN Tarutung kepada terdakwa Henuk.

"Keadilan sudah ditegakkan, walaupun tidak seperti yang kita inginkan, namun mungkin inilah proses hukum dan kita sangat menghormati apa yang jadi putusan hakim,"ucap Sabungan.

Seperti diberitakan sebelumnya, Hakim PN Tarutung Natanael Sitanggang yang mengadili perkara pelapor Martua Situmorang dengan terlapor Prof. Yusuf Leonard Henuk dengan nomor perkara 2/Pid C/2022/PN Trt menjatuhkan vonis tiga bulan penjara dengan masa percobaan enam bulan tanggal 18 Februari.

Dan selang seminggu, hakim pengadilan Tarutung yang dipimpin Wakil Ketua Hendra Hutabarat pada saat sidang atas pelapor Alfredo Sihombing dengan terlapor Prof. Yusuf Leonard Henuk dengan nomor perkara 3/Pid C/2022/PN Trt tanggal 25 Februari menjatuhkan vonis pidana penjara selama dua bulan.

Dan atas jatuhnya vonis atas dua putusan hakim Pengadilan Tarutung, Direktur Pasca Sarjana IAKN Tarutung tersebut mengajukan upaya hukum banding ke Pengadilan Tinggi Medan.

Penulis : Alponso

Comments

Leave a Comment

Berita Lainnya

Timsus Polri Geledah Rumah Pribadi Ferdy Sambo

JAKARTA -Tim khusus Polri geledah rumah pribadi mantan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Polri Irjen Pol. Ferdy Sambo di Jalan Saguling, Duren Tiga, Jakarta

Menkopolhukam Sebut Hasil Autopsi Brigadir J Bisa Dibuka ke Publik

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD menyebutkan hasil autopsi ulang jenazah Nopriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir

Rolas Sitinjak : Pengacara Bukan Dukun, Jangan Berasumsi Pribadi

JAKARTA - Praktisi hukum, Rolas Budiman Sitinjak, meminta kepada semua pihak untuk tidak berpolemik atas pada kasus meninggalnya Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat alias Br

Polri Dapatkan Rekaman CCTV Sekitar Rumah Dinas Kadiv Propam

JAKARTA - Tim khusus Bareskrim Polri mendapatkan rekaman kamera CCTV di sepanjang jalan sekitar rumah dinas Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Polri di Duren Tiga Jakarta Se

Pengacara Ungkap Fakta Baru Bekas Jeratan di Leher Brigadir J

JAKARTA - Adanya temuan luka jerat di leher almarhum meninggal merupakan pembunuhan berencana. Pengacara Keluarga almarhum Brigadir J (Nofriansyah Yoshua Hutabarat )

Komunikasi Terakhir Brigadir J Dengan Keluarga Diungkap Kuasa Hukum

JAKARTA  - Komunikasi terakhir antara Brigadir J dengan keluarga melalui telepon maupun whatsapp grup keluarga terjadi tujuh jam sebelum baku tembak dilaporkan pukul 17.0