Bus 3/4 Transpatriot di Kota Bekasi. PALAPA POS/Istimewa

BEKASI - Kalangan penumpang Bus 3/4 Transpatriot di Kota Bekasi, Jawa Barat, menanggapi pemberlakuan perdana tarif sebesar Rp4.000 per penumpang, Kamis (3/1/2019), dengan beragam.

"Kalau dibandingkan dengan tarif Transjakarta yang sekali naik Rp3.500 per penumpang dan bisa keliling di wilayah Jakarta sepuasnya, tarif Transpatriot ini relatif mahal," kata Warsono (35), di Terminal Induk Kota Bekasi.

Menurut dia, penetapan tarif sebesar Rp4.000 per penumpang yang mulai berlaku hari ini untuk trayek Terminal Induk Kota Bekasi-Harapan Indah cukup mengejutkan dirinya karena belum ada sosialisasi terlebih dahulu kepada penumpang.

"Selama sebulan terakhir ini saya memang rutin naik Transpatriot ke tempat kerja sesuai dengan trayeknya. Selama ini saya naik gratis, dan tiba-tiba hari ini sudah ada pemberlakuan tarif Rp4.000," katanya.

Baca Juga: Pemkot Bekasi Berlakukan Tarif Transpatriot Rp 4.000/Penumpang

Menurut warga Kecamatan Rawalumbu yang bekerja di perusahaan swasta Harapan Indah, Kecamatan Medansatria itu operasional sebanyak sembilan unit Transpatriot saat ini belum terintegrasi dengan halte trayek lain, sehingga besaran tarif yang ditetapkan relatif mahal.

Berbeda dengan Transjakarta yang sudah terintegrasi dengan seluruh trayeknya di Jakarta, namun dengan penetapan tarif yang relatif lebih murah.

Penumpang lainnya, Yusni Naira (32), mengaku tidak mempersoalkan besaran tarif yang saat ini berlaku karena yang terpenting untuk pekerja swasta di kawasan Bekasi Barat itu adalah kenyamanan angkutan umum dan ketepatan waktu operasional.

"Kalau cuma selisih Rp500 dari Transjakarta, menurut saya tidak masalah, karena bus Transpatriot ini nyaman juga ada AC-nya dan tidak terlalu berhimpitan saat perjalanan," katanya.

Menyikapi situasi tersebut, Kepala Dinas Perhubungan Kota Bekasi Yayan Yuliana mengatakan tanggapan beragam penumpang Transpatriot terkait tarif merupakan situasi yang wajar.

"Kalau dianggap mahal, saya kira tidak juga. Sebab kalau diukur dari kemampuan APBD Kota Bekasi yang hanya Rp6,3 triliun tahun ini dengan DKI Jakarta yang sampai puluhan triliun rupiah sangat timpang sekali," kata Yayan.

Pertimbangan pihaknya memberlakukan tarif Rp4.000 per penumpang disesuaikan dengan subsidi sesuai kemampuan APBD Kota Bekasi sebesar Rp3.000 per penumpang.

"Kalau dihitung dari biaya operasional murni Transpatriot sebenarnya mencapai Rp7.000 per penumpang, namun Pemkot Bekasi memberikan subsidi berupa potongan tarif sebesar 45 persen sehingga tarifnya hanya Rp4.000," katanya. (ant)

Comments

Leave a Comment

Berita Lainnya

Dinilai Rugikan Nama Baik Partai, Golkar Kota Bekasi Bakal Laporkan Andi Salim ke Polisi

BEKASI - Kisruh atas kepemilikan gedung DPD Partai Golkar Kota Bekasi yang diklaim Andy Iswanto Salim berbuntut panjang. Wakil Ketua DPD Partai Golkar Kota Bekasi Bidang

Cabuti Tanaman di Pedestrian, Satpol PP Kota Bekasi Amankan Pria Gangguan Jiwa

BEKASI - Seorang pria diduga mengalami gangguan jiwa diamankan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bekasi. Pria tersebut tertangkap tangan saat dirinya mencabuti tanaman di pedestri

Kegiatan Belajar Mengajar Tatap Muka di Kota Bekasi Masuk Tahap Persiapan

BEKASI – Rencana pembukaan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka di Kota Bekasi pada 13 Juli 2020 masuk tahap persiapan. Sejumlah sekolah diminta untuk mengikuti protokol keseha

Klaim Gedung Miliknya, Andy Salim Usir Paksa Pengurus dari DPD Partai Golkar Kota Bekasi

BEKASI – Pengusaha Andy Salim didampingi kuasa hukumnya mengusir paksa pengurus DPD Partai Golkar Kota Bekasi yang sedang beraktivitas dari dalam gedung DPD Partai Golkar di Jalan Ahm

Terjadi Antrean Penumpang, Tri Adhianto Sidak ke Stasiun Bekasi

BEKASI - Wakil Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menyayangkan terjadinya antrean panjang penumpang KRL di Stasiun Bekasi menuju Jakarta pada Senin (6/7/2020). Untuk itu, Tri Adhianto melakukan

Sardi Effendi: Salah Titik Koordinat Akibat Human Error Operator Sekolah

BEKASI - Ketua Komisi IV DPRD Kota Bekasi, Sardi Effendi membeberkan polemik kesalahan titik koordinat lokasi pendaftar PPDB Online akibat human eror operator sekolah. Sehingga, banyak keke